Dalam mengolah air limbah tekstil

les, indonesia, private, obras, guru, sekolah, belajar, yogyakarta, usaha, jogja, kursus, terbaik, batik, kaos, kebaya, jahit, baju jahit, mesin jahit, konveksi, kursus menjahit
Dalam mengolah air limbah tekstil

Dalam mengolah air limbah tekstil


dilakukan 3 proses, yaitu:



a) Proses Pre-Treatment
Proses ini bertujuan mengkondisikan karakteristik air limbah yang akan diolah,
mulai dari: penyaringan partikel kasar, penghilangan warna (decolouring),
equalisasi (penyeimbangan debit), penyaringan halus, dan penyesuaian suhu.
1) Penyaringan partikel kasar
Tujuan dari tahap penyaringan partikel kasae ini adalah menahan sisa benang
dan kain yang memungkinkan ada dalam aliran air limbah. Saringan kasar ini
berdiameter 50-20 mm. Air limbah yang tidak berwarna bias lanjut ke tanki
berikutnya, sementara air limbah yang berwarna spesifik harus melalui proses
decolouring terlebih dahulu.
2) Penghilangan warna (decolouring)
Fitriani(2012) mengatakan bahwa:
“Air limbah yang berwarna akan mengalami koagulasi dengan koagulan
khusus (biasanya FeSO4 – Ferro sulphate, konsentrasi = 600-700 ppm) untuk
mengikat warna, lalu air limbah mengalami penyesuaian pH dengan
penambahan kapur (lime, konsentrasi = 150-300 ppm) akibat pencampuran
koagulan Ferro Sulphate sebelumnya. Dan kemudian air limbah masuk ke
tangki flokulasi dengan penambahan polymer (konsentrasi = 0,5-0,2 ppm)
sehingga terbentuk flok-flok yang dapat mengendap dalam tangki
sedimentasi.”


3) Penyesuaian suhu

Penyesuaian suhu air limbah dari pencelupan/pencapan mutlak dilakukan
dalam Cooling Tower. Karakteristik limbah produksi tekstil umumnya bersuhu
350-400oC, sehingga Cooling Tower dibutuhkan untuk menurunkan suhu agar
kerja bakteri (proses biologis) dapat optimal.
b) Proses Primer
Dalam proses ini dilakukan main treatment (pengolahan utama), bisa secara
biologis dan diikuti proses pengendapan (sedimentasi).
1) Proses Biologis
Apabila digunakan proses biologis sebagai proses primer pengolahannya,
beberapa proses yang terbukti efektif antara lain: lumpur aktif, laguna aerob,
dan parit oksidasi.
Hal ini disebabkan karena sistem dalam bak aerasi ini berjalan dengan laju
aliran rendah dan penggunaan energi rendah sehingga biaya operasi dan
pemeliharaanpun rendah. Untuk memperoleh BOD, COD, DO, Jumlah
Padatan Tersuspensi, Warna dan beberapa parameter lain dengan kadar yang
sangat rendah, telah digunakan pengolahan yang lebih unggul yaitu dengan
menggunakan Karbon Aktif, Saringan Pasir, Penukar Ion dan Penjernihan
Kimia. Parameter-parameter tersebut dijaga kestabilannya sehingga
penguraian polutan dalam limbah oleh bakteri dapat maksimal.
2) Proses Sedimentasi,
Bak sedimentasi didisain sedemikian rupa untuk memudahkan proses
pengendapan partikel dalam air. Biasanya mempunyai bentuk bundar di
bagian atas dan konis/kerucut di bagian bawah. Desain ini untuk
mempermudah pengeluaran endapan lumpur di dasar bak. Sistem return
sludge cukup optimal dilakukan pada pengolahan limbah, sehingga sebagian
besar sludge akan dikembalikan ke bak aerasi. Pemantauan ketinggian
endapan lumpur dari permukaan air dan MLSS selalu dilakukan.

c) Proses Sekunder

Proses ini merupakan tahap lanjutan proses biologi dan sedimentasi dalam rangka
mempersiapkan air limbah olahan memasuki badan air penerima, sesuai dengan
baku mutu yang ditetapkan Proses ini merupakan tahap lanjutan proses biologi
dan sedimentasi dalam rangka mempersiapkan air limbah olahan memasuki
badan air penerima, sesua dengan baku mutu yang ditetapkan. Beberapa
parameter yang dicek pada outlet bak sedimentasi menjadi tolok ukur boleh
tidaknya air limbah olahan ini dibuang ke badan air penerima. Beberapa kasus
memerlukan penambahan Aluminium sulphate Al2(SO4)3 konsentrasi 150-33 ppm,
Polymer konsentrasi 0,5-2,0 ppm dan Antifoam (silicon base) untuk mengurangi
padatan tersuspensi yang masih terdapat dalam air.

Comments