Limbah Tekstil

les, indonesia, private, obras, guru, sekolah, belajar, yogyakarta, usaha, jogja, kursus, terbaik, batik, kaos, kebaya, jahit, baju jahit, mesin jahit, konveksi, kursus menjahit
Limbah Tekstil

Limbah Tekstil



Limbah tekstil merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pengkanjian,
proses penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan, merserisasi,
pewarnaan, pencetakan dan proses penyempurnaan.
Proses penyempurnaan kapas menghasilkan limbah yang lebih banyak dan lebih
kuat dari pada limbah dari proses penyempurnaan bahan sistesis. Oktavia (2011)
mengatakan bahwa “Gabungan air limbah pabrik tekstil di Indonesia rata-rata
mengandung 750 mg/l padatan tersuspensi dan 500 mg/l BOD. Perbandingan
COD : BOD adalah dalam kisaran 1,5 : 1 sampai 3 : 1. Pabrik serat alam
menghasilkan beban yang lebih besar. Beban tiap ton produk lebih besar untuk
operasi kecil dibandingkan dengan operasi modern yang besar, berkisar dari 25
kg BOD/ton produk sampai 100 kg BOD/ton. Informasi tentang banyaknya limbah
produksi kecil batik tradisional belum ditemukan.”


a) Sumber Limbah Industri Tekstil.


Di Indonesia industry tekstil merupakan salah satu penghasil devisa Negara.
Dalam melakukan kegiatannya industry besar maupun kecil membutuhkan
banyak air dan bahan kimia yang digunakan antara lain dalam proses
pelenturan, pewarnaan dan pemutihan. Salah satu proses penting dalam
produksi garmen adalah proses pencucian atau laundry yang dapat disebut
juga sebagai proses akhir dalam produksi garmen yaitu dengan cara
pelenturan warna asli dan pemberian warna baru yang diinginkan. Terutama
dalam produk jeans, hasil pencucian akan menjadi kunci keberhasilan produk
tersebut, karena efek dari pencucian itu akan menjadi pertimbangan utama
dalam menentukan harga jualnya dipasaran.
Limbah dan emisi merupakan non product output dari kegiatan industri tekstil.
Khusus industri tekstil yang di dalam proses produksinya mempunyai unit
Finishing-Pewarnaan (dyeing) mempunyai potensi sebagai penyebab
pencemaran air dengan kandungan amoniak yang tinggi.

Pihak industri pada umumnya masih melakukan upaya pengelolaan
lingkungan dengan melakukan pengolahan limbah (treatment). Dengan
membangun instalasi pengolah limbah memerlukan biaya yang tidak sedikit
dan selanjutnya pihak industri juga harus mengeluarkan biaya operasional
agar buangan dapat memenuhi baku mutu. Untuk saat ini pengolahan limbah
pada beberapa industri tekstil belum menyelesaikan penanganan limbah
industri.


Air limbah yang dibuang begitu saja ke lingkungan menyebabkan
pencemaran, antara lain menyebabkan polusi sumber-sumber air seperti
sungai, danau, sumber mata air, dan sumur. Limbah cair mendapat perhatian
yang lebih serius dibandingkan bentuk limbah yang lain karena limbah cair
dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dalam bentuk pencemaran fisik,
pencemaran kimia, pencemaran biologis dan pencemaran radioaktif.
Limbah tekstil merupakan limbah cair dominan yang dihasilkan industri tekstil
karena terjadi proses pemberian warna (dyeing) yang di samping memerlukan
bahan kimia juga memerlukan air sebagai media pelarut. Industri tekstil
merupakan suatu industri yang bergerak dibidang garmen dengan mengolah
kapas atau serat sintetik menjadi kain melalui tahapan proses: Spinning
(Pemintalan) dan weaving (Penenunan). Limbah industri tekstil tergolong
limbah cair dari proses pewarnaan yang merupakan senyawa kimia sintetis,
mempunyai kekuatan pencemar yang kuat. Bahan pewarna tersebut telah
terbukti mampu mencemari lingkungan. Zat warna tekstil merupakan semua
zat warna yang mempunyai kemampuan untuk diserap oleh serat tekstil dan
mudah dihilangkan warna (kromofor) dan gugus yang dapat mengadakan
ikatan dengan serat tekstil (auksokrom).


Zat warna tekstil merupakan gabungan dari senyawa organik tidak jenuh,
kromofor dan auksokrom sebagai pengaktif kerja kromofor dan pengikat
antara warna dengan serat. Limbah air yang bersumber dari pabrik yang
biasanya banyak menggunakan air dalam proses produksinya. Di samping itu
ada pula bahan baku yang mengandung air sehingga dalam proses
pengolahannya air tersebut harus dibuang.


Lingkungan yang tercemar akan mengganggu kelangsungan hidup makhluk
hidup disekitarnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam
kegiatan industri, air yang telah digunakan (air limbah industri) tidak boleh
langsung dibuang ke lingkungan, tetapi air limbah industri harus mengalami
proses pengolahan sehingga dapat digunakan lagi atau dibuang ke
lingkungan tanpa menyebabkan pencemaran. Proses pengolahan air limbah
industri adalah salah satu syarat yang harus dimiliki oleh industri yang
berwawasan lingkungan.

Larutan penghilang kanji biasanya langsung dibuang dan ini mengandung zat
kimia pengkanji dan penghilang kanji pati, PVA, CMC, enzim, asam.
Penghilangan kanji biasanya memberikan BOD paling banyak dibanding
dengan proses-proses lain. Pemasakan dan merserisasi kapas serta

pemucatan semua kain adalah sumber limbah cair yang penting, yang
menghasilkan asam, basa, COD, BOD, padatan tersuspensi dan zat-zat
kimia. Proses-proses ini menghasilkan limbah cair dengan volume besar, pH
yang sangat bervariasi dan beban pencemaran yang tergantung pada proses
dan zat kimia yang digunakan. Pewarnaan dan pembilasan menghasilkan air
limbah yang berwarna dengan COD tinggi dan bahan-bahan lain dari zat
warna yang dipakai, seperti fenol dan logam.Di Indonesia zat warna berdasar
logam (krom) tidak banyak dipakai. Proses pencetakan menghasilkan limbah
yang lebih sedikit daripada pewarnaan.


b) Jenis dan Penggolongan Limbah Industri Tekstil



Pencemaran lingkungan akibat industri tekstil adalah berupa pencemaran
debu yang dihasilkan dari penggunaan mesin berkecepatan tinggi dan limbah
cair yang berasal dari tumpahan dan air cucian tempat pencelupan larutan
kanji dan proses pewarnaan. Zat warna tekstil merupakan gabungan dari
senyawa organik tidak jenuh, kromofor, dan auksokrom sebagai pengaktif
kerja kromofor dan pengikat antara warna dengan serat. Kandungan limbah
yang dihasilkan dari proses pewarnaan tergantung pada pewarna yang
digunakan. Limbah-limbah yang dihasilkan suatu industri, akan dialirkan ke
kolam-kolam penampungan dan selanjutnya dibuang ke sungai. Limbah
tekstil merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pengkanjian,
penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan, merserisasi, pewarnaan,
pencetakan dan proses penyempurnaan.


Andinurina (2012) mengatakan bahwa:


“Gabungan air limbah pabrik tekstil di Indonesia rata-rata mengandung 750
mg/l padatan tersuspensi dan 500 mg/l BOD. Perbandingan COD : BOD
adalah dalam kisaran 1,5:1 sampai 3:1. Pabrik serat alam menghasilkan
beban yang lebih besar. Beban tiap ton produk lebih besar untuk operasi kecil
dibandingkan dengan operasi modern yang besar, berkisar dari 25 kg
BOD/ton produk sampai 100 kg BOD/ton. Informasi tentang banyaknya
limbah produksi kecil batik tradisional belum ditemukan.”
c) Jenis-jenis limbah
Jenis-jenis Limbah Tekstil terdiri dari:
1) Logam berat terutama As, Cd, Cr, Pb, Cu, Zn.
2) Hidrokarbon terhalogenasi (dari proses dressing dan finishing).
3) Pigmen, zat warna dan pelarut organik.
4) Tensioactive (surfactant).
Terjadinya pencemaran air, akan menggangu kehidupan ikan-ikan yang ada
di dalamnya, menurunnya kualitan perairan, sehingga daya dukung perairan
tersebut terhadap organisme akuatik yang hidup didalamnya akan turun.
Masalah pencemaran air menimbulkan berbagai akibat, baik yang bersifat
biologic, fisik maupun kimia.
Tiap-tiap jenis zat warna mempunyai kegunaan tertentu dan sifat-sifatnya
tertentu pula. Pemilihan zat warna yang akan dipakai bergantung pada

bermacam faktor antara lain: jenis serat yang akan diwarnai, macam wana
yang dipilih dan warna-warna yang tersedia, tahan lunturnya dan peralatan
produksi yang tersedia.
Jenis yang paling banyak digunakan saat ini adalah zat warna reaktif dan zat
warna dispersi.Hal ini disebabkan produksi bahan tekstil dewasa ini adalah
serat sintetik seperti serat polamida, poliester dan poliakrilat.Bahan tekstil
sintetik ini, terutama serat poliester, kebanyakan hanya dapat dicelup dengan
zat warna dispersi.Demikian juga untuk zat warna reaktif yang dapat
mewarnai bahan kapas dengan baik.
d) Karakteristik Limbah Industri Tekstil
Karakteristik air limbah dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
(1) Karakteristik Fisika
Karakteristik fisika ini terdiri dari beberapa parameter, diantaranya:
(a) Total Solid (TS)
Merupakan padatan didalam air yang terdiri dari bahan organik
maupun anorganik yang larut, mengendap,atau tersuspensi dalam air.
(b) Total Suspended Solid (TSS)
Merupakan jumlah berat dalam mg/lkering lumpur yang ada didalam air
limbah setelah mengalami penyaringan dengan membran berukuran
0,45 mikron.
(c) Warna
Pada dasarnya air bersih tidak berwarna, tetapi seiring dengan waktu
dan menigkatnya kondisi anaerob, warna limbah berubah dari yang
abu–abu menjadi kehitaman.
(d) Kekeruhan
Kekeruhan disebabkan oleh zat padat tersuspensi, baik yang bersifat
organik maupun anorganik.
(e) Temperatur
Merupakan parameter yang sangat penting dikarenakan efeknya
terhadap reaksi kimia, laju reaksi, kehidupan organisme air dan
penggunaan air untuk berbagai aktivitas sehari – hari.
(f) Bau
Disebabkan oleh udara yang dihasilkan pada proses dekomposisi
materi atau penambahan substansi pada limbah. Pengendalian bau
sangat penting karena terkait dengan masalah estetika.
(2) Karateristik Kimia
(a) Biological Oxygen Demand (BOD)
Menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme
hidup untuk menguraikan atau mengoksidasi bahan–bahan buangan di
dalam air.
(b) Chemical Oxygen Demand (COD)
Merupakan jumlah kebutuhan oksigen dalam air untuk proses reaksi
secara kimia guna menguraikan unsur pencemar yang ada. COD
dinyatakan dalam ppm (part per milion) atau ml O2/ liter.(Alaerts dan
Santika, 1984).

(c) Dissolved Oxygen (DO)
adalah kadar oksigen terlarut yang dibutuhkan untuk respirasi aerob
mikro organisme. DO di dalam air sangat tergantung pada temperatur
dan salinitas.
(d) Ammonia (NH3)
Ammonia adalah penyebab iritasi dan korosi, meningkatkan
pertumbuhan mikro organisme dan mengganggu proses desinfeksi
dengan chlor (Soemirat, 1994). Ammonia terdapat dalam larutan dan
dapat berupa senyawa ion ammonium atau ammonia.tergantung pada
pH larutan.
(e) Sulfida
Sulfat direduksi menjadi sulfida dalam sludge digester dan dapat
mengganggu proses pengolahan limbah secara biologi jika
konsentrasinya melebihi 200 mg/L. Gas H2S bersifat korosif terhadap
pipa dan dapat merusak mesin.
(f) Fenol
Fenol mudah masuk lewat kulit. Keracunan kronis menimbulkan gejala
gastero intestinal, sulit menelan, dan hipersalivasi, kerusakan ginjal
dan hati, serta dapat menimbulkan kematian).
(g) Derajat keasaman (pH)
pH dapat mempengaruhi kehidupan biologi dalam air. Bila terlalu
rendah atau terlalu tinggi dapat mematikan kehidupan
mikroorganisme.Ph normal untuk kehidupan air adalah 6–8.

(h) Logam Berat

Logam berat bila konsentrasinya berlebih dapat bersifat toksik
sehingga diperlukan pengukuran dan pengolahan limbah yang
mengandung logam berat. Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh
manusia yang dalam skala tertentu membantu kinerja metabolisme
tubuh dan mempunyai potensi racun jika memiliki konsentrasi yang
terlalu tinggi.

Comments