, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Modern Ethnic Hijab

les, indonesia, private, obras, guru, sekolah, belajar, yogyakarta, usaha, jogja, kursus, terbaik, batik, kaos, kebaya, jahit, baju jahit, mesin jahit, konveksi, kursus menjahit
Modern Ethnic Hijab

Modern Ethnic Hijab



Muslimah Indonesia, kita berjumpa kembali melalui buku ke sembilan dari Thematic Hijab Series:
Modern Ethnic Hijab. Buku ini sengaja dihadirkan sebagai wujud rasa cinta kami pada budaya
Indonesia, dalam hal ini adalah kain-kain adati khas bangsa Indonesia, misalnya batik, jumputan,
tenun, tenun ikat, dan masih banyak lagi.
Kain-kain khas bangsa Indonesia sungguh luar biasa, baik dari segi jenis, motif, warna, tekstur, hingga
cara pembuatannya yang kebanyakan hasil kriya buatan tangan (hand made). Banyak bangsa asing
yang mengagumi dan mengoleksi sebagai suatu karya masterpiece, tak ternilai harganya. Yang lebih
luar biasa, hampir setiap setiap suku di Indoneia memiliki kain khas suku dan daerahnya sendiri.
Penggunaan kain adati sebagai jilbab saat ini mulai banyak dilirik. Desainer busana muslimah
kenamaan, Irna Mutiara, bahkan memiliki satu line khusus untuk mempopulerkan penggunaan
kain khas Indonesia sebagai materi berhijab. Dan, sebagai salah satu pilihan berhijab, rasanya sangat
memungkinkan untuk menggunakan kain-kain ini sebagai pengganti scarf atau selendang polos.


Indonesia begitu kaya akan kain-kain tradisional atau kain adati, yang terkenal hingga ke
manca negara. Bangsa-bangsa asing mengagumi keindahan, keberagaman, hingga proses
pembuatannya yang rumit dan lebih mengedepankan seni kriya buatan tangan. Kelebihan
lain, kain-kain tradisional Indonesia kebanyakan juga terbuat dari bahan dan pewarna alami.
Bagi bangsa kita yang sudah lama menggunakan kain-kain tersebut sebagai bagian dari
kehidupan dan berbagai tradisi yang kita jumpai setiap hari, kehadirannya terasa “biasa”,
tak ada yang istimewa. Pandangan ini sebaiknya kita ubah, karena warisan budaya ini
sarat dengan nilai-nilai seni yang tinggi, tak ternilai harganya. Setiap motif yang diterakan
pada kain-kain itu biasanya merupakan hasil pemikiran mendalam, sarat makna, dan
pengharapan yang baik bagi pemakainya. Bila bangsa asing saja mengapresiasi kain-kain
ini, maka sudah selayaknya kita pun lebih menghargainya. Berikut adalah beberapa jenis
kain tradisional yang merupakan kekayaan kain adati bangsa Indonesia.
Batik
Batik merupakan kain khas Indonesia yang sangat populer. Meskipun demikian,
tak banyak yang tahu bahwa hampir setiap provinsi di Indonesia dan hampir di
setiap kabupaten serta kotamadya di Pulau Jawa, memiliki jenis batik dan ragam
hias tersendiri. Motif batik diterakan di atas selembar kain polos (biasanya kain
mori/kafan atau sutera), dan ditutup lilin malam yang telah dicairkan. Kain
tersebut kemudian dicelup cairan pewarna, sehingga bagian yang tertutup lilin
tidak terkena warna. Setelah warnanya terserap rata, bagian berlilin dihilangkan
dengan cara direbus (dilorod). Proses ini dilakukan berkali-kali, hingga tercapai
warna-warni yang diinginkan para pembatik atas selembar kain itu. Konon,
proses ini dipelajari nenek moyang kita dari suku bangsa China yang datang ke
Nusantara dan menetap ratusan tahun silam. Proses adaptasi kain batik dalam
kehidupan rakyat Indonesia selama berabad-abad dan penerapan ragam hias
khas Nusantaralah yang akhirnya membuat kain ini diakui UNESCO sebagai
World Heritage dari bangsa Indonesia, menjadi salah satu warisan dunia.
Di pasaran ada berbagai jenis batik. Batik tulis dikerjakan dengan cara
menorehkan lilin malam pada motif satu persatu hingga seperti proses menulis
dengan alat bernama canting. Prosesnya yang sedemikian rumit membuat batik
tulis memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Batik cap, sedikit lebih mudah
dan murah karena proses penutupan lilin dilakukan dengan lempengan plat pola
batik. Di luar kedua jenis ini ada kain motif batik yaitu kain yang dibuat di pabrik
di mana motif dicetak di atas kain oleh mesin, sehingga sering disebut batik
print. Kain ini sangat murah, dan tidak disarankan untuk dikenakan dalam
acara resmi.

Songket

Budaya membuat kain songket berkembang di berbagai suku bangsa, terutama
suku Melayu dan suku lain yang terpengaruh budaya Melayu yang tersebar di
daerah Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Pulau Bali dan beberapa suku
di Nusa Tenggara juga memiliki kain songketnya sendiri. Daerah penghasil
songket yang terkenal dan produktif adalah Palembang dan Padang. Kain
songket dibuat dengan cara “menyungkit” (dipercaya sebagai asal kata
songket) atau menyelipkan benang khusus pada tenunan pakan, yang akan menjadi
motif kain tersebut. Selembar kain biasanya terdiri atas tumpal (kepala kain)
dan badan kain, di mana terdapat perbedaan motif pada tumpal dan badan kain.
Sebagai bagian dengan motif lebih padat, biasanya tumpal dijadikan hiasan di
bagian depan busana.

Sifat kain songket cenderung kaku dengan tekstur tebal. Kain songket dengan
benang emas telihat mewah dan sering dijadikan busana pesta atau pengantin.


Tenun ikat terdiri atas ikat pakan, ikat lungsi, dan dobel
ikat. Sesuai namanya, motif pada kain tenun ikat pakan
diciptakan pada benang pakan, sedangkan pada ikat
lungsi motif diciptakan pada benang lungsi. Pada teknik
dobel ikat atau tenun ikat berganda motif diciptakan
pada kedua benang, pakan dan lungsi. Teknik ini hanya
dimiliki oleh tiga suku bangsa di dunia, dan salah satunya
suku bangsa Tenganan, di desa Tenganan Pegringsingan,
Bali, yang menghasilkan kain gringsing. Dua bangsa
lain pemilik teknik dobel ikat adalah India dan Jepang.

Sulaman

Teknik menyulam atau bordir (embroidery) pada kainkain
adati dijumpai di beberapa dearah seperti Aceh,
Padang, Tasikmalaya-Jawa Barat, Kudus-Jawa Tengah,
dan Manado. Penciptaan motif dilakukan dengan
sulaman benang berbagai warna berulangkali hingga
membentuk motif (biasanya flora) pada selembar kain
polos dari bahan sutera, chiffon, atau katun. Bahan dasar
kain sulaman memang bukan kain yang tebal dan
kaku. Hasilnya berupa motif bunga-bungaan cantik
untuk bahan kebaya, kerudung, atau taplak meja.
Jumputan, Cinde, Sasirangan

Motif pada kain jumputan, cinde, atau sasirangan
diciptakan dengan cara mengikat bagian kain polos
dengan benang, kemudian mencelupkan tersebut pada
larutan pewarna. Setelah ikatan dibuka, bagian yang
diikat tidak terkena warna dan tetap putih, hingga
tercipta motif bulatan, belah ketupat, garis, atau pakis
(paisley) sesuai keinginan dan pola si pembuat. Pada
kain sasirangan, ikatan dilakukan dengan cara menjelujur
benang dan kemudian menariknya sehingga
tercipta motif deretan titik. Pada beberapa kain, motif
dan warna tambahan diciptakan dengan cat yang dicolet-
kan pada kain.

Karena tenunan diciptakan saat ditenun, hasilnya biasanya
berupa motif geometris yang khas yang cenderung kaku.
Namun, kearifan lokal (local genius) di berbagai tempat
seperti Pulau Bangka atau Palembang bisa menciptakan
motif non geometris berupa bunga mawar yang sangat
cantik.

Tenun

Berbeda dengan kain songket yang cenderung tebal dan
kaku, kain tenun bersifat lentur sehingga lebih nyaman
dikenakan. Kain ini ditenun dengan alat tenun bukan
mesin (ATBM) dari benang katun atau sutera berbagai
warna. Kain tenun sutera dari Sengkang (Sulawesi
Selatan) memiliki tekstur tipis yang “renyah” dalam
pilihan warna-warni mencolok yang sangat cantik.
Kain tenun yang terkenal dari Sumatra adalah ulos dari
suku Batak yang sarat perlambang, sedangkan dari Jawa
Tengah ada lurik yang sangat nyaman dikenakan.

Tenun Ikat

Kain tenun ikat merupakan kain yang pembuatannya
sangat rumit. Motif kain diciptakan di benang. Setelah
diikat, benang dicelupkan pada pewarna alami (misalnya
kunyit untuk warna kuning, daun tarum/indigo untuk
warna biru, dan kulit manggis untuk warna maroon),
lalu

dikeringkan dan diatur pada ATBM untuk kemudian
ditenun. Setiap pulau di Indonesia memiliki jenis kain
tenun ikatnya sendiri, namun yang paling terkenal adalah
tenun ikat dari daerah Kalimantan, Toraja, Maluku, dan
Nusa Tenggara. Penciptaan motif di benang menciptakan
motif yang geometris dan kainnya bertekstur tebal
cenderung kaku. Kain ikat dari daerah Bali (kain cepuk
dan endek) merupakan perkecualian karena sifatnya
yang tipis dan lentur.

Di luar kain-kain tersebut di atas, masih ragam kain tradisional karya berbagai suku bangsa di Indonesia. Masih ada kain
cual dari Pulau Bangka, kain poleng dan prada dari Pulau Bali, dan sebagainya.
Bagaimana menerapkan kain-kain tradisional dalam pemakaian jilbab? Ternyata mudah saja. Kita tinggal mengganti
berbagai selendang atau scarf polos dengan kain tradisional berbentuk sama. Muslimah yang kreatif, tentu akan
mengeksplorasi berbagai materi yang bisa digunakannya sebagai jilbab, tak terbatas pada selendang atau scarf
bermotif etnik. Ada kain batik, runner (sejenis taplak meja panjang 2 m dengan lebar kurang dari 30 cm),
taplak meja bermotif wayang, ulos, dan sebagainya yang bisa menjadi hijab yang cantik dan santun.

Semua tergantung kreativitas kita dalam menerapkannya.
Ada berbagai jenis kain adati yang ideal sebagai jilbab. Yang paling mudah adalah kain yang
bersifat lemas dan cukup tipis hingga mudah dibentuk, misalnya selendang batik dari bahan
silk atau chiffon. Kain-kain ini bisa dijadikan jilbab dengan style menjuntai berdraperi.
Namun dari materi tenun yang sedikit tebal atau kaku pun tetap bisa menjadi hijab
yang cantik dan unik, dengan membuatnya menjadi berbagai turban dengan cara
dililitkan.


t i p s

1. Selalu padankan selendang atau scarf etnik dengan inner (ciput)
polos.
2. Meskipun aturan standar berbusana serasi adalah busana atasan
polos untuk jilbab bermotif (dan sebaliknya), aturan ini tidak selalu
berlaku bila kita ingin mengenakan kain adati sebagai bagian
berkerudung. Ingat, banyak kain batik bermotif ramai yang jadi
padanan kebaya aneka warna dan tetap serasi, bukan? Jadi, jilbab
dari kain tradisional dengan motif dan warna lembut bisa
dipadankan dengan atasan bermotif.
3. Eksplorasilah koleksi kain, selendang, scarf dari bahan batik, tenun,
jumputan, dan aneka kain adati lainnya. Jangan lupa, taplak atau
runner (taplak berbentuk persegi seperti selendang) juga bisa
dijadikan kerudung yang gaya, asal tahu cara menerapkannya serta
memadukannya dengan inner yang serasi
4. Karena materinya yang bernuansa tradisional, banyak yang
kemudian hanya menggunakan hijab etnik dalah kesempatan
khusus yang mengharuskan berbusana daerah. Mulai sekarang,
jangan ragu untuk mengenakan hijab bergaya etnik dalah
kesempatan sehari-hari. Banyak muslimah yang kini menjadikan
kreasi hijab dari kain etnik sebagai bagian dari busana sehari-hari.
5. Pilihlah warna busana dari satu warna hijab yang tidak terlalu
banyak muncul, penampilan akan lebih keren!
6. Kenakan aksesoris bernuansa etnik untuk penampilan yang lebih
total. Bahannya bisa berupa kayu, kain perca, hingga emas atau
perak berdesain tradisional.
7. Kenakan make-up dalam warna tropis nan eksotis seperti terakota,
jingga (orange), cokelat tembaga, emas, dan cokelat gelap, untuk
mendapatkan tampilan yang natural, cerah, dan serasi dengan
kain-kain tradisional. Untuk kain yang memang berasal dari
Nusantara, make-up gaya gelap (Gothic) atau pucat sangat tidak
disarankan untuk dipadukan.

0 komentar:

Post a Comment